Menurut UNESCO, pembelajaran yang efektif pada abad ini harus diorientasikan
pada empat pilar, yaitu :
1.
Learning
to know
2.
Learning
to do
3.
Learning
to be
4.
Learning
to live together.
Hasil tertinggi
dari proses belajar adalah menjadi seseorang (to be), seorang manusia baru yang
memiliki keunggulan kompetensi (being excellence), juga memiliki keunggulan
karakter (being morally).
Untuk mencapai
keberhasilan pembelajaran, salah satu komponen yang menunjang di antaranya
adalah Strategi Pembelajaran. Dalam menyusun strategi kegiatan belajar-mengajar,
seorang guru dapat memilih salah satu model pembelajaran yang paling tepat bagi
kelasnya. Salah satu model pembelajaran yang aktif dan interaktif adalah model
Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) karena melibatkan seluruh
peserta didik dalam bentuk kelompok-kelompok kerja.
Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang
menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di
antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang
terdiri dari dua orang atau lebih. Dimana pada tiap kelompok tersebut terdiri
dari siswa-siswa berbagai tingkat kemampuan, melakukan berbagai kegiatan
belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang
sedang dipelajari. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk tidak hanya
belajar apa yang diajarkan tetapi juga untuk membantu rekan belajar, sehingga
bersama-sama mencapai keberhasilan. Semua Siswa berusaha sampai semua
anggota kelompok berhasil memahami dan melengkapinya. Model pembelajaran
kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan
pembelajaran yaitu; Hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan
individu, dan pengembangan keterampilan sosial.
Ada
lima unsur yang harus dipenuhi dalam proses pembelajaran dan merupakan salah
satu beda Cooperative Learning dengan belajar kelompok biasa :
1) Saling ketergantungan yang positif.
2) Tanggung jawab perseorangan.
2) Tanggung jawab perseorangan.
3) Interaksi tatap muka.
4) Komunikasi antar anggota.
5) Evaluasi proses kelompok.
4) Komunikasi antar anggota.
5) Evaluasi proses kelompok.
6 (enam) langkah model
pembelajaran kooperatif:
1.
Menyampaikan
tujuan dan memotivasi siswa
2.
Menyajikan
informasi
3.
Mengorganisasikan
siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
4.
Membimbing
kelompok belajar
5.
Evaluasi
dan pemberian umpan balik
6.
Memberikan
penghargaan
Keunggulan dari model pembelajaran kooperatif
adalah:
- membantu siswa belajar berpikir berdasarkan sudut
pandang suatu subjek bahasan dengan memberikan kebebasan siswa dalam
praktik berpikir,
- membantu siswa mengevaluasi logika dan bukti-bukti bagi
posisi dirinya atau posisi yang lain,
- memberikan kesempatan pada siswa untuk memformulasikan
penerapan suatu prinsip,
- membantu siswa mengenali adanya suatu masalah dan
memformulasikannya dengan menggunakan informasi yang diperoleh dari bacaan
atau ceramah,
- menggunakan bahan-bahan dari anggota lain dalam kelompoknya,dan mengembangkan motivasi untuk belajar yang lebih baik
Kekurangan dari model pembelajaran cooperative learning :
bersumber pada dua faktor yaitu faktor dari
dalam (intern) dan faktor dari luar (ekstern).
Faktor
dari dalam yaitu sebagai berikut:
1)
Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, disamping itu memerlukan
lebih banyak tenaga, pemikiran dan waktu.
2)
Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan
fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai
3)
Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topik
permasalahan yang sedang dibahas meluas. Sehingga banyak yang tidak sesuai dengan
waktu yang telah ditentukan
4)
Saat diskusi kelas, terkadang didominasi oleh seseorang, hal ini mengakibatkan
siswa yang lain menjadi pasif.
Faktor
dari luar erat kaitannya dengan kebijakan pemerintah yaitu padamya kurikulum
pembelajaran sejarah, selain itu pelaksanaan tes yang terpusat seperti UN/UNAS
sehingga kegiatan belajar mengajar di kelas cenderung dipersiapkan untuk
keberhasilan perolehan UN/UNAS.
TIPE-TIPE
DAN TEKNIK APLIKASINYA
Beberapa
tipe model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh beberapa ahli antara
lain Slavin adalah sebagai berikut:
1.
JIGSAW
Jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif
yang dikembangkan oleh Elliot Aronson’s. Model pembelajaran ini didesain untuk
meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan
juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan,
tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada
kelompoknya.
Sesuai dengan namanya, teknis penerapan tipe pembelajaran ini maju mundur
seperti gergaji. Menurut Arends (1997), langkah-langkah penerapan model
pembelajaran Jigsaw dalam matematika, yaitu:
- Membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 4 – 6
orang
- Masing-masing kelompok mengirimkan satu orang wakil
mereka untuk membahas topik, wakil ini disebut dengan kelompok ahli
- Kelompok ahli berdiskusi untuk membahas topik yang
diberikan dan saling membantu untuk menguasai topik tersebut
- Setelah memahami materi, kelompok ahli menyebar dan
kembali ke kelompok masing-masing, kemudian menjelaskan materi kepada
rekan kelompoknya
- Guru memberikan tes individual pada akhir pembelajaran
tentang materi yang telah didiskusikan
Kunci pembelajaran ini adalah interpedensi
setiap siswa terhadap anggota kelompok untuk memberikan informasi yang
diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan tes dengan baik.
Bila dibandingkan dengan metode pembelajaran tradisional, model pembelajaran
Jigsaw memiliki beberapa kelebihan yaitu:
- Mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar,karena sudah
ada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekannya
- Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu
yang lebih singkat
- Metode pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih
aktif dalam berbicara dan berpendapat.
Dalam penerapannya sering dijumpai beberapa
permasalahan yaitu :
- Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan
cenderung mengontrol jalannya diskusi. Untuk mengantisipasi masalah ini
guru harus benar-benar memperhatikan jalannya diskusi. Guru harus
menekankan agar para anggota kelompok menyimak terlebih dahulu penjelasan
dari tenaga ahli. Kemudian baru mengajukan pertanyaan apabila tidak
mengerti.
- Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berfpikir
rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk
sebagai tenaga ahli. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus memilih
tenaga ahli secara tepat, kemudian memonitor kinerja mereka dalam
menjelaskan materi, agar materi dapat tersampaikan secara akurat.
- Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan. Untuk
mengantisipasi hal ini guru harus pandai menciptakan suasana kelas yang
menggairahkan agar siswa yang cerdas tertantang untuk mengikuti jalannya
diskusi.
- Siswa yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan
untuk mengikuti proses pembelajaran
Langkah-langkah mengaplikasikan tipe Jigsaw
dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
- Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok,
dengan setiap kelompok terdiri dari 4-6 siswa dengan kemampuan yang
berbeda-beda baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah serta jika
mungkin anggota berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda tetapi tetap
mengutamakan kesetaraan jender. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah
anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi
pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran
yang akan dicapai. Dalam tipe Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas
mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa
dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang
disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli,
siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun
rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok
asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok jigsaw (gigi
gergaji). Misal suatu kelas dengan jumlah siswa 40, dan materi
pembelajaran yang dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri
dari dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan terdapat 5
kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri
dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal
memberikan informasi yang telah diperoleh dalam diskusi di kelompok ahli
dan setiap siswa menyampaikan apa yang telah diperoleh atau dipelajari
dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang
dilakukan oleh kelompok ahli maupun kelompok asal.
- Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun
kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok
atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil
diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi
pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
- Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.
- Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor
penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar
individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
- Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi
beberapa bagian materi pembelajaran.
- Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan tipe Jigsaw
untuk belajar materi baru, perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi
materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
-------------------------------------
2.
NHT (Number
Heads Together)
Pembelajaran kooperatif tipe NHT dikembangkan
oleh Spencer Kagen (1993). Pada umumnya NHT digunakan untuk melibatkan siswa
dalam penguatan pemahaman pembelajaran atau mengecek pemahaman siswa terhadap
materi pembelajaran dengan mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam
kelompok.
Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk
mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok
kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat
secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam
hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni
mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah.
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran
kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk
mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan
penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000: 28)
dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu
pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran
kooperatif dengan tipe NHT yaitu :
- Hasil belajar akademik stuktural. Bertujuan untuk
meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
- Pengakuan adanya keragaman. Bertujuan agar siswa
dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang.
- Pengembangan keterampilan social. Bertujuan untuk
mengembangkan keterampilan sosial siswa.
Keterampilan yang dimaksud antara lain
berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan
ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya.Penerapan pembelajaran
kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen dalam Ibrahim (2000: 29), dengan
tiga langkah yaitu :
- Pembentukan kelompok;
- Diskusi masalah;
- Tukar jawaban antar kelompok
Langkah-langkah tersebut kemudian
dikembangkan oleh Ibrahim (2000: 29) menjadi enam langkah sebagai berikut :
- Persiapan. Dalam
tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario
Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model
pembelajaran kooperatif tipe NHT.
- Pembentukan kelompok. Dalam
pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe
NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan
3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan
nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran
yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan
kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai
tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.
- Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku
panduan. Dalam pembentukan
kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar
memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh
guru.
- Diskusi masalah. Dalam
kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang
akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk
menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari
pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan
oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai
yang bersifat umum.
- Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban. Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan
para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan
menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
- Memberi kesimpulan. Guru
bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang
berhubungan dengan materi yang disajikan.
Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran
kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan
oleh Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18), antara lain adalah :
- Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
- Memperbaiki kehadiran
- Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar
- Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil
- Konflik antara pribadi berkurang
- Pemahaman yang lebih mendalam
- Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
- Hasil belajar lebih tinggi
Langkah-langkah menurut versi lain dalam
penerapan tipe NHT:
- Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan
kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
- Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa
untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal.
- Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok, setiap
kelompok terdiri dari 4-5 siswa, setiap anggota kelompok diberi nomor atau
nama.
- Guru mengajukan permasalahan untuk dipecahkan bersama
dalam kelompok.
- Guru mengecek pemahaman siswa dengan menyebut salah satu
nomor (nama) anggota kelompok untuk menjawab. Jawaban salah satu siswa
yang ditunjuk oleh guru merupakan wakil jawaban dari kelompok.
- Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman,
mengarahkan, dan memberikan penegasan pada akhir pembelajaran.
- Guru memberikan tes/kuis kepada siswa secara
individual.
- Guru memberi penghargaan pada kelompok melalui skor
penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar
individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
-------------------------------------
3.
STAD (Student
Teams Achievement Divisions)
Pengertian Model Pembelajaran STAD. Pembelajaran
kooperatif tipe STAD dikembangkan oleh Slavin dkk. Model pembelajaran STAD
merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Menurut Nur Citra
Utomo dan C. Novi Primiani (2009: 9), “STAD didesain untuk memotivasi
siswa-siswa supaya kembali bersemangat dan saling menolong untuk mengembangkan
keterampilan yang diajarkan oleh guru”. Menurut Mohamad Nur (2008: 5), pada
model ini siswa dikelompokkan dalam tim dengan anggota 4 siswa pada setiap tim.
Tim dibentuk secara heterogen menurut tingkat kinerja, jenis kelamin, dan suku.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran STAD
lebih menekankan kepada pembentukan kelompok. Kelompok yang dibentuk nantinya
akan berdiskusi untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Oleh karena itu model
pembelajaran STAD dapat membuat siswa untuk saling membantu dalam menyelesaikan
suatu permasalahan.
STAD adalah salah satu model pembelajaran kooperatif dengan sintaks:
Pengarahan, buat kelompok heterogen (4-5 orang), diskusikan bahan
belajar-LKS-modul secara kolaboratif, sajian-presentasi kelompok
sehinggaterjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap
siswa atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward.
Ngalimun, 2012. Strategi dan Model Pembelajaran. Banjarmasin. Scripta Cendekia.
Informasi dari sumber lain tentang STAD:
Metode STAD merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan
berdasarkan teori Psikologi sosial. Dalam teori ini sinergi yang muncul dalam
kerja kooperatif menghasilkan motivasi yang lebih daripada individualistik
dalam lingkungan kompetitif. Kerja kooperatif meningkatkan perasaan positif
satu dengan lainnya, mengurangi keterasingan dan kesendirian , membangun
hubungan dan menyediakan pandangan positif terhadap orang lain. Model STAD ini
mempunyai beberapa kelebihan antara lain didasarkan pada prinsip bahwa para
siswa bekerja bersama-sama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap belajar
teman-temannya dalam tim dan juga dirinya sendiri, serta adanya penghargaan
kelompok yang mampu mendorong para siswa untuk kompak, setiap siswa mendapat
kesempatan yang sama untuk menunjang timnya mendapat nilai yang maksimum
sehingga termotivasi untuk belajar. Model STAD memiliki dua dampak sekaligus
pada diri para siswa yaitu dampak instruksional dan dampak sertaan. Dampak
instruksional yaitu penguasaan konsep dan ketrampilan, kebergantungan positif,
pemrosesan kelompok, dan kebersamaan. Dampak sertaan yaitu kepekaan sosial,
toleransi atas perbedaan, dan kesadaran akan perbedaan. Kelemahan yang mungkin
ditimbulkan dari penerapan metode STAD ini adalah adanya perpanjangan waktu
karena kemungkinan besar tiap kelompok belum dapat menyelesaikan tugas sesuai
waktu yang ditentukan sampai tiap anggota kelompok memahami kompetensinya.
Langkah-langkah Model Pembelajaran STAD. Menurut Agus Suprijono (2011:
133-134), langkah-langkah pada model pembelajaran STAD adalah sebagai berikut:
- Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara
heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dan lain-lain).
- Guru menyajikan pelajaran.
- Guru memberi tugas pada kelompok untuk dikerjakan oleh
anggota-anggota kelompok. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan
pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
- Guru memberi kuis/ pertanyaan kepada seluruh siswa.
Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
- Memberi evaluasi.
- Kesimpulan.
Dalam referensi lain, langkah-langkah penerapan
pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah:
- Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan
kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
- Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara
individual sehingga akan diperoleh skor awal.
- Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok
terdiri dari 4-5 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang,
dan rendah). Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku
yang berbeda tetapi tetap mementingkan kesetaraan jender.
- Bahan materi yang telah dipersiapkan didiskusikan dalam
kelompok untuk mencapai kompetensi dasar. Pembelajaran kooperatif tipe
STAD biasanya digunakan untuk penguatan pemahaman materi.
- Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman,
mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah
dipelajari.
- Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara
individual.
- Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan
perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke
skor kuis berikutnya (terkini).
Pada model pembelajaran STAD, tim yang
terbaik akan mendapatkan sebuah penghargaan. Menurut Mohamad Nur (2008: 5-6),
penghargaan diberikan pada tim dengan kriteria tertentu. Kriteria itu dapat
diambil dari skor tim, kekompakan tim dalam bekerja sama, saling membantu teman
satu tim dalam mempelajari materi, dan saling memberi semangat kepada teman
satu tim untuk melakukan yang terbaik. Mohamad Nur (2008: 6) juga menyatakan
bahwa “ide utama di balik STAD adalah untuk memotivasi siswa saling memberi
semangat dan membantu dalam menuntaskan keterampilan-keterampilan yang
dipresentasikan guru”.
Kelebihan dan kelemahan model pembelajaran STAD.
Menurut Yurisa (2010), kelebihan dan kelemahan model pembelajaran STAD adalah
sebagai berikut:
* Kelebihan model pembelajaran kooperatif STAD
- Meningkatkan kecakapan individu.
- Meningkatkan kecakapan kelompok.
- Meningkatkan komitmen.
- Menghilangkan prasangka buruk terhadap teman sebaya.
- Tidak bersifat kompetitif.
- Tidak memiliki rasa dendam.
* Kelemahan model pembelajaran kooperatif
STAD
- Konstribusi dari siswa berprestasi rendah menjadi
kurang.
- Siswa berprestasi tinggi akan mengarah pada kekecewaan
karena peran anggota yang pandai lebih dominan.
-------------------------------------
4. TAI (Team Assisted Individualization atau Team Accelerated
Instruction)
Pembelajaran
kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin. Tipe ini mengkombinasikan
keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran idnidvidual. Tipe ini
dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Oleh
karena itu, kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan
masalah, ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa secara individual
belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar
individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas
oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas
keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe
TAI adalah sebagai berikut:
- Guru memberikan tugas kepada siswa untuk mempelajari
materi pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan oleh guru.
- Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa
untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal.
- Guru membentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok
terdiri dari 4-5 siswa dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi,
sedang, dan rendah). Jika mungkin, anggota kelompok terdiri dari ras,
budaya, suku yang berbeda tetapi tetap mengutamakan kesetaraan jender.
- Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan
dalam kelompok. Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok saling
memeriksa jawaban teman satu kelompok.
- Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman,
mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah
dipelajari.
- Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual.
- Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan
perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke
skor kuis berikutnya (terkini).
Tipe-tipe
pembelajaran kooperatif yang telah diuraikan di atas merupakan tipe-tipe yang
paling sering digunakan dalam proses pembelajaran di kelas.
-------------------------------------
* Terdapat tipe-tipe pembelajaran kooperatif yang lain, yaitu:
– Think-Pair-Share
Model
pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share merupakan salah satu model
pembelajaran kooperatif yang mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan
diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan.
Think-Pair-Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk
memberi siswa waktu yang lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling
membantu satu sama lain. Dari cara seperti ini diharapkan siswa mampu bekerja
sama, saling membutuhkan, dan saling tergantung pada kelompok-kelompok kecil
secara kooperatif.
– Picture and Picture
Sesuai
dengan namanya, tipe ini menggunakan media gambar dalam proses pembelajaran
yaitu dengan cara memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
Melalui cara seperti ini diharapkan siswa mampu berpikir dengan logis sehingga
pembelajaran menjadi bermakna.
– Problem Posing
Tipe
pembelajaran kooperatif problem posing merupakan pendekatan pembelajaran yang
diadaptasikan dengan kemampuan siswa, dan dalam proses pembelajarannya
difokuskan pada membangun struktur kognitif siswa serta dapat memotivasi siswa
untuk berpikir kritis dan kreatif. Proses berpikir demikian dilakukan siswa
dengan cara mengingatkan skemata yang dimilikinya dengan mempergunakannya dalam
merumuskan pertanyaan. Dengan pendekatan problem posing siswa dapat pengalaman
langsung dalam membentuk pertanyaan sendiri.
– Problem Solving
Problem
solving (pembelajaran berbasis masalah) merupakan pendekatan pembelajaran yang
menggiring siswa untuk dapat menyelesaikan masalah (problem). Masalah dapat
diperoleh dari guru atau dari siswa. Dalam proses pembelajarannya siswa dilatih
untuk kritis dan kreatif dalam memecahkan masalah serta difokuskan pada
membangun struktur kognitif siswa.
– Team Games Tournament (TGT)
Pada
pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT), peserta didik
dikelompokkan dalam kelompok-kelompok kecil beranggotakan empat peserta didik
yang masing-masing anggotanya melakukan turnamen pada kelompoknya
masing-masing. Pemenang turnamen adalah peserta didik yang paling banyak menjawab
soal dengan benar dalam waktu yang paling cepat.
– Cooperative Integrated Reading and
Composition (CIRC)
Tipe
CIRC dalam model pembelajaran kooperatif merupakan tipe pembelajaran yang
diadaptasikan dengan kemampuan peserta didik, dan dalam proses pembelajarannya
bertujuan membangun kemampuan peserta didik untuk membaca dan menyusun
rangkuman berdasarkan materi yang dibacanya.
– Learning Cycle (Daur Belajar)
Learning
Cycle merupakan tipe pembelajaran yang memiliki lima tahap pembelajaran, yaitu
(1) tahap pendahuluan (engage), (2) tahap eksplorasi (exploration), (3) tahap
penjelasan (explanation), (4) tahap penerapan konsep (elaboration), dan (5)
tahap evaluasi (evaluation).
– Cooperative Script (CS)
Dalam
tipe pembelajaran Cooperative Script siswa berpasangan dan bergantian secara
lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
E.
PEMBENTUKAN DAN PENGHARGAAN KELOMPOK
Menurut Slavin guru memberikan penghargaan
pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar dari nilai
dasar (awal) ke nilai kuis/tes setelah siswa bekerja dalam kelompok.
Cara-cara penentuan nilai penghargaan kepada
kelompok dijelaskan melalui langkah-langkah berikut:
- Menentukan nilai dasar (awal) masing-masing siswa.
Nilai dasar (awal) dapt berupa nilai tes/kuis awal atau menggunakan nilai
tes/ulangan sebelumnya.
- Menentukan nilai tes/kuis yang telah dilaksanakan
setelah siswa bekerja dalam kelompok, misal nilai kuis I, nilai kuis II,
atau rata-rata nilai kuis I dan kuis II kepada setiap siswa yang kita
sebut nilai kuis terkini.
- Menentukan nilai peningkatan hasil belajar yang
besarnya ditentukan berdasarkan selisih nilai kuis terkini dan nilai dasar
(awal) masing-masing siswa dengan menggunakan kriteria berikut ini:
- Nilai peningkatan 5, jika nilai kuis/tes terkini turun
lebih dari 10 poin di bawah nilai awal
- Nilai peningkatan 10, jika nilai kuis/tes terkini turun
1 sampai dengan 10 poin di bawah nilai awal
- Nilai peningkatan 20, jika nilai kuis/tes terkini sama
dengan nilai awal sampai dengan 10 di atas nilai awal
- Nilai peningkatan 30, jika nilai kuis/tes terkini lebih
dari 10 di atas nilai awal
- Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rata-rata
nilai peningkatan yang diperoleh masing-masing kelompok dengan memberikan
predikat cukup, baik, sangat baik, dan sempurna.
Kriteria untuk status kelompok:
- Cukup, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok kurang
dari 15 (Rata-rata nilai peningkatan kelompok < 15)
- Baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok antara
15 dan 20 (15 ≤ Rata-rata nilai peningkatan kelompok < 20)
- Sangat baik, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok
antara 20 dan 25 (20 ≤ Rata-rata nilai peningkatan < 25)
- Sempurna, bila rata-rata nilai peningkatan kelompok
lebih atau sama dengan 25 (Rata-rata nilai peningkatan kelompok ≥ 25)
Referensi :
